MENAFSIR PITUTUR KYAI BERPANGKAT JENDRAL

koperasi-bomei-poetra
Ki Syam'un dan pejuang lainnya mendirikan Koperasi Boemi Poetra 

Ketokohan Ki Syam'un yang merupakan cucu tokoh pergerakan Geger Cilegon (Ki Wasid-Red) itu sudah sangat terkenal di dunia kepesantrenan, kemiliteran dan pemerintahan. Diantara petuah beliau kepada putra-putranya yang kemudian dinasihatkan turun-temurun hingga saya mendengarnya dari cucu beliau yakni KH Hikmatullah Ahmad Syam'un adalah pitutur Ki Syam'un yang menyatakan:
“Ngebangun manusia itu tidak cukup dengan jampe dan air kendi tapi harus dengan ilmu. Kalau kamu besar nanti nggak jadi orang berilmu dan berguna buat orang lain, lebih baik dari kecil kamu mati supaya tidak ngabisin beras,”.

Sebagai Ulama yang dikenal moderat sangat maklum jika Ki Syam'um dalam nasihatnya membicarakan persoalan Jampe dan air kendi namun tidak berarti bahwa beliau memandang negatif terhadap tradisi demikian, beliau hendak menyatakan bahwa itu saja tidak cukup ketika manusia memiliki kebutuhan lain di luar persoalan sembur-menyembur itu yakni beliau paham betul bahwa manusia membutuhkan pitutur alias bimbingan dan nasehat yang tentu saja mesti di dasarkan pada ilmu pengetahuan. setiap manusia membutuhkan ilmu untuk menjalani hidupnya dan agar dapat berguna bagi kehidupan orang lain.

Baca juga: Brigjend. KH. Syam'un Membina Bangsa Dengan Karya

Dalam pandangan Ki Syam'un, kemestian untuk memberi manfaat kepada orang lain merupakan hal penting yang harus beliau ajarkan kepada santri-santri beliau di Pesantren Al-khairiyah Citangkil terlebih lagi kepada penyambung garis keturunannya sehingga dalam nasihat beliau sangat wajar ketika dinyatakan secara hiperbolis "Kalau kamu besar nanti nggak jadi orang berilmu dan berguna buat orang lain, lebih baik dari kecil kamu mati", alasan yang kemudian beliau ungkapkan dengan logika sederhana lewat pernyataan "supaya tidak ngabisin beras” sebetulnya tidaklah sederhana secara falsafi karena persoalan beras memang merupakan kebutuhan pokok secara biologis dan dipandang krusial dalam kacamata sosial. lebih jauh logika sederhana itu juga bermakna mendalam secara falsafi karena memang demikianlah manakala kebodohan melanda maka manusia berpotensi untuk menjadi Si Raja Tega yang tak segan-segan mengorbankan banyak hal dan orang banyak hanya demi kepentingan isi perutnya alias kepentingan pribadinya yang pada nasihat beliua dimajaskan dengan ungkapan "ngabisin beras".
Sekian dan intinya Ki Syam'un hendak mengajarkan bahwa manusia butuh SEMBUR, PITUTUR dan terkadang perlu JANTUR

Baca juga: Al-Khairiyah dan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA)

Penulis: Betet Qordowi
Previous
Next Post »
Thanks for your comment
-->