25 Murid Pertama Brigjend KH. Syam'un


Pesantren AL-Khairiyah pada awal perintisan 1916-1923, yakni selama tujuh tahun, masih menggunakan sistem sorogan dan bandongan layaknya pesantren tradisional lainnya. Praktek pendidikan ini dilakukan dengan non formal, karena itu tidak diberikan ijazah formal. 

Di Pesantren ini, Brigjend. KH. Syam'un memberikan ruang luas kepada santri-santrinya untuk mendalami materi yang sesuai dengan minatnya. tidak ada ketentuan jenis kitab atau pelajaran apa yang harus didahulukan. Jenjang Pendidikan semata-mata ditandai banyaknya jumlah kitab yang telah dipelajari dan dikuasai santri.

Brigjend. KH. Syam'un selama tujuh tahun mendidik dan membina kader-kader yang kelak akan menjadi tokoh pembaharu di Banten khususnya. Tujuh tahun adalah waktu yang sebentar untuk membina kader, tetapi bagi Brigjend. KH. Syam'un tujuh tahun adalah waktu yang cukup untuk membina kader guna melanjutkan estafeta perjuangan Indonesia. 

Baca juga; Sejarah Singkat Kampus Pondok Pesantren Al-Khairiyah

Menurut Rahayu Permana, Pada masa perintisan itu, Brigjend. KH. Syam'un hanya mendidik duapuluh lima santri dari berbagai pelosok Banten. dari duapuluh lima santri inilah yang kelak menjadi poros perkembangan dan pembaharuan pendidikan di Banten. mereka adalah; KH. Ahmad Ambon,KH. Ali Jaya (Ketua Nahdoh Syubbanil Muslimin) , KH. Mahmud, KH. Ahmad Naja, KH. Rasiman, KH. Muhammad Nor, KH. Sarbini, KH. Syadeli, KH. Isma'il, KH. Rosidin, KH. Arifuddin, KH. Asy'ari, KH. Rafi'i , KH. Syibromalisi (Pengarang Lagu bernotasi menggunakan bahasa arab), KH. Abdul Jalil, KH. Buang, KH. Musta'al, KH. Tb. Sohari Pipitan (Wedana Ciruas dan pendiri Al-Khairiyah Pipitan), KH. Ali Akbar (bapak KH. Rafe'i Ali pendiri an-Nidhomiyyah), KH. Halimi, KH. Haq, KH. Hasan, Ki Bakar, dan Ki Mahmud Sufi.

Aktivitas dalam pengkaderan santri-santri pada tahap awal sangat giat dan serius. tahap awal yang berlangsung ppada tahun 1916 sampai 1923. di tahun 1924, Brigjend. KH. Syam'un melaksanakan Ibadah haji, untuk sementara waktu pesantrennya ditutup. sedangkan santri-santrinya yang telah mendapatkan gemblengan kembali ke kampungnya masing-masing untuk menyebarkan ilmunya. sekembalinya dari Mekkah pada thaun 1925, beliau membuka kembali pesantrennya. pada saat itu pula, beliau mengundang santri-santri yang digemblengnya untuk mendirikan kembali pesantren yang kelak akan berkontribusi besar bagi Banten dan dunia pendidikan. 

Baca juga;Pahlawan Banten yang dilupakan Masyarakat Banten

Previous
Next Post »
Thanks for your comment
-->