Al-Khairiyah dan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA)

Santri berperang melawan penjajah
Pasukan Pembela Tanah Air (PETA)

Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil terus mengalami kemajuan walaupun selalu mendapatkan perhatian Belanda, sampai berakhirnya kekuasan Belanda di Indonesia. Kemudian digantikan oleh pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942. Politik Jepang sangat berbeda dengan politik Belanda. Dimana politik yang dijalankan oleh Jepang secara terang-terangan mengambil hati kalangan santri muslim, dan melalui mereka memobilisir masyarakat luas untuk membangun sistem pertahanan menghadapi kemungkinan ancaman sekutu. Politik ini memberikan kesempatan bagi banyak lulusan pesantren menduduki jabatan birokrasi.

Keseimbangan kekuatan selain dijaga oleh pemerintah pendudukan Jepang. Selain mengembalikan partisipasi pemimpin nasional sekuler, pemerintah Jepang juga mendorong muslim santri untuk berpartisipasi dalam bidang politik. Ketika situasi Jepang semakin terdesak oleh sekutu, maka untuk itu jepang pada tanggal 3 Oktober 1943 membentuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) yang juga melibatkan para santri. K.H Syam’un di masa pendudukan Jepang diangkat menjadi Daidanco (Komandan Batalyon) untuk wilayah Banten, sedangkan santrinya menjadi Shudanco (Komandan Peleton). Semenjak itulah, Al-Khairiyah terlibat langsung dengan perjuangan membela tanah air dalam bidang militer.

Baca juga; Hollandsch Inlandsch School (HIS) versi Al-Khairiyah


Untuk meneruskan perjuangannya di Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil Cilegon, maka K.H Syam’un mengangkat santrinya yaitu Ustad Sybromelisi (guru Al-Khairiyah), sebagai pimpinan Perguruan Islam Al-Khairiyah yang telah lama mengabdi di Al-Khairiyah sebagai penggantinya. Walaupun K.H. Syam’un menjadi tentara pembela tanah air, tetapi hubungan dengan pesantrennya tetap terjalin baik, dimana K.H. Syam’un masih menyempatkan diri untuk mengajar para santri yang ada di pesatrennya.

Hal ini ia lakukan setiap seminggu sekali berkunjung ke Citangkil, setelah seminggu menjalankan tugasnya di Dai san Daidan (Komandan Batalyon III) di Serang. Sedangkan para santri yang mengikuti jejak K.H. Syam’un sebagai Tentara Pembela Tanah Air (Peta), mereka itu kebanyakan santri organisasi kepanduan dan pencak silat yang ada di Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil.

Baca juga; Pahlawan Banten yang dilupakan Masyarakat Banten
Previous
Next Post »
Thanks for your comment
-->