![]() |
| Pasukan Geger Cilegon 1888 |
Dalam perjalanan menuju kota Serang tepatnya di Kampung Pejaten dikaki Gunung Pinang, Pasukan Ki Wasyid berpasangan dengan pasukan Belanda yang dikirim dari Serang untuk membantu pasukan mereka di Cilegon. Tak dapat di elakkan lagi pertempuran pun terjadi di tempat itu, namun jumlah tentara Belanda sangat banyak senjatanya pun sangat lengkap dibandingkan dengan pasukan Ki Wasyid yang jumlahnya sedikit dan senjatanya hanya golok dan lembing saja.
Namun demikian para pejuang yang memiliki semangat dan semboyan “Hidup merdeka atau mati bahagia” terus berjuang, dalam pasukan Ki Wasyid banyak terdapat para pesilat dari aliran Bandrong yang dikenal dengan nama “Pasukan Semut Gatel” yang maksudnya sekali berperang pantang menyerah sampai-sampai salah satu nya tewas.
Baca juga: Tragedi Meletusnya Gunung Krakatau
Pertarungan yang tidak seimbang berjalan dengan seru, korban berjatuhan dikedua belah pihak, tapi Belanda mengirimkan tentaranya berlapis-lapis, mereka datang sepasukan demi sepasukan, berselang setiap setengah jam lalu bergabung dengan teman-teman mereka yang sedang berperang.
Akhirnya pasukan Ki Wasyid terpecah dua kelompok, sebagian ke utara dipimpin oleh Konidin Karang Kepuh dan sebagian lagi ke selatan dipimpin oleh Ki Wasyid yang kemudian bergabung dengan pasukan H. Ismail Gulacir di lereng Gunung Pinang. Pertempuran terus berlangsung hingga sore hari. Malam itu Belanda menghentikan serangannya dan pasukan gabungan Ki Wasyid serta H. Ismail mundur ke Gudang Batu - Waringin Kurung untuk mengatur siasat.
Baca juga: Hollandsch Inlandsch School (HIS) versi Al-Khairiyah


ConversionConversion EmoticonEmoticon